Pia Rokhmah, Usaha Rumahan di Wonosari Gempol yang Kian Dilirik Daerah Lain
Pasuruan_lumbungberita.id
Di Kecamatan Gempol, nama pia nyaris identik dengan Desa Kejapanan. Deretan rumah produksi seolah menjadi penanda bahwa wilayah itu adalah sentra kuliner legendaris di Kabupaten Pasuruan.
Namun, beberapa kilometer dari sana, di Desa Wonosari, aroma pia juga mengepul setiap hari dari sebuah rumah produksi yang terus sibuk sejak pagi. Tak banyak yang tahu, dari tempat sederhana itulah pia buatan rumahan kini mampu menembus pasar luar pulau.
Namanya Pia Rokhmah. Dirintis oleh Ulul Azmi pada 2015. Awalnya jauh dari kesan besar. Tidak ada pabrik luas, tidak ada mesin modern, apalagi modal besar. Semuanya dimulai dari keberanian mencoba usaha sendiri akibat berhenti bekerja dari perusahaan.
“Awalnya saya keluar dari kerja di perusahaan. Setelah itu coba bikin pia sendiri,” ujar Ulul kepada awak media, Rabu (20/5/2026).
Langkah itu bukan tanpa risiko. Saat memulai usaha, Ulul mengaku benar-benar berangkat dari nol. Produksi dilakukan seadanya. Pemasaran pun masih mengandalkan lingkungan sekitar.
Namun perlahan, pia buatannya mulai dikenal. Dari mulut ke mulut, pelanggan terus bertambah. Produksi meningkat. Varian juga beragam. Karyawan pun mulai direkrut. Hingga kini, Pia Rokhmah telah memiliki belasan pekerja dengan omzet yang mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan.
“Alhamdulillah sampai saat ini omzet terus berkembang. Sekarang mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah,” tutur perempuan berjilbab tersebut.
Menariknya, pasar mereka tak lagi hanya Pasuruan dan sekitarnya. Produk pia dari Dusun Jlumbang itu kini sudah dikirim ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa.
Kesuksesan itulah yang membuat Bumdesma Berdaya Mandiri Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, datang khusus ke Wonosari untuk studi tiru.

Rombongan ingin melihat langsung bagaimana sebuah usaha rumahan bisa berkembang menjadi UMKM besar.
“Kami ingin melihat dari dekat proses produksi pia. Karena kami mendengar sejarahnya usaha ini dimulai benar-benar dari nol,” kata Direktur Bumdesma Berdaya Mandiri, Erlina.
Menurutnya, pengalaman Pia Rokhmah menjadi gambaran nyata bahwa UMKM desa juga punya peluang berkembang besar jika dikelola serius.
“Sepulang dari sini, hasil studi tiru ini akan kami sampaikan di Blitar. Semoga kami juga bisa menapaki kesuksesan seperti Pia Rokhmah,” lanjutnya.
Di sela kunjungan, para tamu melihat langsung proses produksi pia. Mulai dari pembuatan adonan, pengisian kacang hijau, hingga proses pemanggangan yang membuat aroma manis gurih memenuhi ruangan.
Kepala Desa Wonosari, Damanhuri, berharap kunjungan itu menjadi awal kolaborasi antarwilayah dalam pengembangan usaha desa.
“Semoga silaturahmi seperti ini bisa terus berlanjut. Tidak hanya sekali pertemuan,” ujarnya.
Baginya, UMKM desa tidak cukup hanya berkembang sendiri. Pertukaran pengalaman dan wawasan antardaerah juga dibutuhkan agar usaha kecil semakin naik kelas.
“Besar harapan kami, pertemuan ini dapat meningkatkan produktivitas UMKM di desa kita masing-masing,” harapnya.
Ya, dari sebuah rumah produksi sederhana di Dusun Jlumbang Wonosari, cerita tentang Pia Rokhmah menjadi bukti bahwa usaha besar kadang memang lahir dari langkah kecil yang nekat dimulai. (Ind)
Share this content:

