FPK Probolinggo Dikukuhkan, Siap Angkat Budaya Yang Mulai Terpinggirkan
Probolinggo_lumbungberita.id
Forum Pamong Kebudayaan (FPK) resmi hadir di Kabupaten Probolinggo. Setelah kepengurusannya dikukuhkan, FPK Probolinggo membawa misi mengoptimalkan potensi budaya lokal sekaligus mengangkat kebudayaan yang mulai terpinggirkan.
Pengukuhan pengurus FPK Kabupaten Probolinggo digelar di Balai Desa Suko, Kecamatan Maron, Jumat (4/9/2026). Puluhan budayawan Probolinggo hadir dalam kegiatan tersebut. Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, jajaran Forkopimcam Maron, serta perwakilan FPK dari sejumlah daerah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, hadir mewakili Bupati Probolinggo sekaligus membacakan sambutan tertulis Bupati.
Dalam sambutannya, Bupati Probolinggo menyebut kehadiran FPK memiliki arti penting dalam upaya pemajuan kebudayaan di daerah.
“Kehadiran FPK di Kabupaten Probolinggo sangat berarti dan akan menjadi mitra strategis dalam upaya pemajuan kebudayaan di Kabupaten Probolinggo,” demikian isi sambutan tertulis tersebut.
Sementara itu, Ketua FPK Kabupaten Probolinggo, Hery Daryanto, menegaskan pihaknya akan memberikan perhatian terhadap kebudayaan yang selama ini mulai terpinggirkan. Tidak hanya itu, berbagai potensi budaya, baik berupa benda maupun tak benda, juga akan didorong untuk tetap lestari.
“Dalam skala kecil kami akan mengoptimalkan potensi budaya dan budayawan Probolinggo untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan,” ujar mantan Kepala Satpol PP Kabupaten Probolinggo tersebut.
Menurut Hery, langkah tersebut tidak akan berhenti pada lingkup Kabupaten Probolinggo. FPK setempat juga akan membangun komunikasi dengan FPK di daerah sekitar, seperti FPK Pasuruan, FPK Malang, dan FPK Lumajang.
Salah satu agenda yang akan didorong melalui komunikasi lintas daerah tersebut adalah percepatan Peraturan Daerah tentang Masyarakat Adat Tengger. FPK Probolinggo berharap keberadaan regulasi tersebut dapat semakin memperkuat perlindungan terhadap masyarakat dan kebudayaan adat Tengger.
Di sisi lain, Ketua FPK Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, mengingatkan agar FPK Probolinggo siap menghadapi tantangan kebudayaan yang semakin nyata, baik dalam lingkup lokal, regional, maupun nasional.
“Tantangan kebudayaan semakin nampak jelas di depan mata, dan ini harus dihadapi oleh teman-teman seniman tidak hanya di Probolinggo tapi juga kota lain di Jawa Timur,” paparnya.
Menurutnya, salah satu tantangan tersebut adalah munculnya aktivitas seni dan budaya yang dinilai semakin jauh dari norma adat ketimuran. Di sisi lain, budaya lokal juga menghadapi tantangan ketika budaya impor justru lebih banyak mendapat ruang.
“Jadi tidak sekadar menjadi wadah berkumpulnya para budayawan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat, melestarikan, dan menghidupkan kembali potensi kebudayaan lokal yang mulai terpinggirkan,” pungkasnya. (Ind)
Share this content:

