Ruwatan Agung Nuswantoro di Putuk Truno, GMBI Bentangkan Merah Putih 40 Meter
Pasuruan_lumbungberita.id
Rangkaian Ruwatan Agung Nuswantoro yang digelar LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) Wilayah Teritorial Jawa Timur memasuki puncak acara pada Sabtu (22/8/2026).
Prosesi ruwatan berlangsung di kawasan Air Terjun Putuk Truno, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Perwakilan distrik GMBI dari berbagai daerah se-Jawa Timur turut hadir mengikuti prosesi tersebut.
Sebelum menuju lokasi ruwatan, mereka berkumpul di Lapangan Kelurahan Prigen dan berjalan beriringan menuju Air Terjun Putuk Truno.
Dalam perjalanan tersebut, puluhan peserta membentangkan kain Merah Putih sepanjang sekitar 40 meter. Mereka juga membawa berbagai ubo rampe dan tumpeng yang menjadi bagian dari prosesi Ruwatan Agung Nuswantoro.
Setibanya di lokasi air terjun, prosesi ruwatan dipimpin dalang Ki Winarno Sabdo. Sejumlah peserta duduk bersila di area air terjun, masing-masing membawa sebuah wayang.
Ki Winarno kemudian maju ke kedung air terjun sembari memainkan dua lakon wayang. Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian ritual Ruwatan Agung Nuswantoro yang berlangsung khidmat.
Ketua LSM GMBI Wilter Jatim, Sugeng SP, mengatakan Ruwatan Agung Nuswantoro menjadi wahana spiritual bagi GMBI untuk ikut bertanggung jawab terhadap situasi dan kondisi bangsa secara keseluruhan.

“GMBI punya komitmen bahwa Ruwatan Agung ini sebagai wahana atau sarana spiritual kami untuk ikut bertanggung jawab terhadap situasi kondisi negara secara keseluruhan. Jadi ini adalah murni karena gerakan anak-anak bangsa yang cinta terhadap NKRI,” ujar Sugeng.
Menurutnya, pembentangan kain Merah Putih sepanjang 40 meter juga memiliki makna simbolis. Angka 40, kata Sugeng, dipandang sebagai salah satu bilangan yang memiliki nilai sakral.
“40 adalah bilangan-bilangan yang kami anggap sebagai sakral. Sehingga ini adalah perpaduan antara kesakralan bentuk lahiriah dengan dimensi spiritual,” jelasnya.
Sugeng juga menekankan pentingnya pembinaan spiritual dalam membentuk karakter seseorang. Ia menyebut GMBI memiliki empat hal yang menjadi bagian dari pembinaan anggotanya, salah satunya adalah pendewasaan spiritual.
“Kami di GMBI ini diajarkan empat hal. Salah satunya adalah pendewasaan spiritual. Jadi orang itu harus dibina spiritualnya dulu untuk menjadi orang hebat,” katanya.
Pembinaan spiritual, sambungnya, juga penting bagi seseorang yang nantinya akan menjadi pemimpin. Ketika spiritual seseorang telah terbina, emosional akan lebih terkontrol, tutur kata memiliki makna, serta perilaku dapat mencerminkan pribadi yang baik.
“Ketika spiritual sudah terbina maka emosionalnya juga akan terkontrol, terus tutur katanya juga akan punya makna dan perilakunya nanti juga akan bisa menjadi manusia-manusia yang baik,” tuturnya.
Sugeng berharap keberadaan GMBI semakin berkembang dan mampu memberikan pengaruh positif di seluruh wilayah Jawa Timur.
“Hari ini kami berada di tengah-tengah Jawa Timur, tapi kami punya cita-cita yang besar, Jawa Timur harus berada di tengah-tengah GMBI. Jadi kami ingin GMBI bisa besar, bisa menggema di seluruh Jawa Timur,” pungkasnya. (Ind)
Share this content:

