Bangkit dari Masa Vakum, Prasasti Cunggrang Makin Ramai Kegiatan Budaya
Pasuruan_lumbungberita.id
Suara tembang macapat kembali menggema di kawasan Prasasti Cunggrang, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jumat malam (17/7/2026).
Tradisi yang rutin digelar setiap Jumat Kliwon itu menjadi penanda bahwa denyut kegiatan kebudayaan di situs bersejarah tersebut terus hidup dan makin berkembang.
Prasasti Cunggrang yang juga dikenal sebagai simbol Hari Jadi Kabupaten Pasuruan kini tak lagi sekadar menjadi peninggalan sejarah. Perlahan, kawasan itu kembali menjelma sebagai ruang pertemuan para pegiat budaya dari berbagai daerah setelah sempat nyaris vakum akibat pandemi Covid-19.
“Tiap rutinan Jumat Kliwon selalu banyak budayawan yang datang. Jadi sekalian bisa bersilaturahmi dengan teman-teman dari kota lain,” ujar Agung, salah satu budayawan yang turut hadir.
Hal senada dikatakan Juru Pelihara Prasasti Cunggrang, Ana Wijiastutik. Perempuan berjilbab ini mengaku bersyukur antusiasme masyarakat terhadap kegiatan budaya terus meningkat.
Bahkan, peserta macapat tak hanya berasal dari Pasuruan, tetapi juga datang dari Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Malang, Batu hingga Gresik.
“Setiap Jumat Kliwon kami mengadakan macapat. Yang datang dari berbagai daerah. Saya sampai terharu, setiap teman yang saya undang, hampir semuanya datang,” tuturnya.
Menurut Ana, kegiatan tersebut bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga memperkenalkan kekhasan macapat khas Pasuruan yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas.
“Macapat ini juga bagian dari upaya kami mengenalkan bahwa Pasuruan memiliki kekhasan macapat sendiri. Hal itu sudah kami sampaikan kepada Disbudpar, dan alhamdulillah mendapat perhatian. Dengan segala keterbatasan, inilah cara kami melestarikan Prasasti Cunggrang,” ungkapnya.
Upaya pelestarian itu, lanjut Ana, juga diperkuat melalui sinergi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Atas arahan pemda, pihaknya telah mendirikan yayasan sebagai wadah pengelolaan kegiatan budaya sejak Juli 2024.
Tak hanya ramai saat agenda kebudayaan berlangsung, Prasasti Cunggrang juga terus menjadi tujuan kunjungan edukasi. Mulai dari siswa taman kanak-kanak, SD, SMP, hingga mahasiswa rutin datang untuk belajar sejarah. Bahkan, ratusan personel Brimob juga kerap berkunjung sebelum menjalani pendidikan.
Meski jumlah pengunjung belum sepenuhnya kembali seperti sebelum pandemi, Ana menilai tren kunjungan terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu.
“Saat pandemi kegiatan budaya praktis vakum karena pembatasan pengunjung. Sekarang perlahan mulai ramai lagi. Sebagai juru pelihara, saya juga terus belajar memperdalam ilmu sejarah agar bisa memberikan penjelasan sedetail mungkin kepada setiap pengunjung, terutama anak-anak sekolah yang rasa ingin tahunya sangat besar,” jelasnya.
Baginya, hidupnya kembali aktivitas budaya di Prasasti Cunggrang bukan sekadar soal banyaknya pengunjung. Lebih dari itu, situs bersejarah tersebut menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan budaya yang dimiliki Kabupaten Pasuruan.
“Sesuai dengan amanah leluhur kami, yakni menjaga dan melestarikan prasasti Cunggrang. Kami bangga bisa memberikan sedikit sumbangsih untuk pelestarian kebudayaan di Kabupaten Pasuruan,” pungkasnya. (Ind)
Share this content:

