“Ngamen Kepada Tuhan”. Sembako dan Air Bersih Disalurkan Yayasan Peduli Dhuafa Pasuruan (YPDP) di Dawuhansengon Purwodadi 

Pasuruan. lumbungberita.id

“Ngamen Kepada Tuhan” Yayasan Peduli Dhuafa Pasuruan (YPDP) kali ini, Minggu (26/7/26) membagikan  19 sembako dan 16.000 (Enam belas ribu) liter air bersih ke warga kampung Sidodadi, Dusun Sridomo, Desa Dawuhansengon, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Tak perduli jalanan terjal penuh bebatuan dan resiko, jajaran pengurus dan anggota Yayasan Peduli Dhuafa Pasuruan (YPDP) membagikan sembako dan air bersih. Perjalanan masuk hutan dan keluar hutan, air bersih yang dibutuhkan warga akhirnya sampai juga ke lokasi warga kampung Sidodadi, Sridomo, Dawuhanswngon, Purwodadi.

Ketua YPDP, Roni Syahrudin atau biasa disapa Ji Roni mengatakan kalau “Ngamen Kepada Tuhan” kali ini bertempat di kampung Sidodadi. Warga disini, kata Ji Roni, membutuhkan air bersih untuk mandi dan memasak.

‎‎”Dbalik beratnya jalan hari ini, ada saudara-saudara kami yang sangat membutuhkan,” kata Ketua YPDP.

‎Berdasarkan pantauan di lokasi, permukiman warga Kampung Sidodadi memang terisolasi di perbukitan. Rumah-rumah sederhana berdiri di antara pepohonan, dengan akses listrik yang belum resmi dan jalan setapak yang hampir tak tersentuh pembangunan. Di tengah keterbatasan itu, air menjadi kebutuhan paling mendesak.

‎Ditambahkan Ji Roni, bahwa kelangkaan air bersih sudah berlangsung lama. “Kasihan warga di sini. Saat kemarau, mereka terkadang sampai tidak mandi karena sulitnya air. Hari ini kami bawa dua tangki air bersih kapasitas 16.000 liter. Semoga cukup untuk meringankan beban,” jelas pria yang berdomisili di Desa Capang, Kecamatan Purwodadi. 

‎Selain air, Yayasan Peduli Dhuafa Pasuruan (YPDP) yang telah berjalan selama delapan tahun ini juga menyalurkan 19  paket sembako untuk Kepala Keluarga (KK). 

‎”Alhamdulillah, kegiatan ini rutin kami lakukan. Bantuan ini bukan hanya dari kami  (YPDP) saja, tapi dari para donatur, termasuk Bapak Letnan Kolonel Agus Jalani, Mas Samsul serta  berbagai elemen, termasuk TNI, Polri, dan masyarakat sipil,” ungkap pria murah senyum.

‎”Semoga para anggota diberikan kesehatan selalu, dan apa yang kami lakukan ini didengar oleh para dermawan serta pemerintah kabupaten dan provinsi.” tutup Ketua YPDP.

Sementara itu Liha, ‎salah satu warga, mengucapkan terima kasih kepada jajaran YPDP serta semuanya yang sudah membantu warga Kampung Sidodadi. Air bersih dan sembako ini sangat ia butuhkan bersama warga lainya.

“Semoga bantuan seperti ini terus ada. Kami memang tinggal di pelosok, tapi kami juga manusia yang butuh perhatian. Terima kasih Yayasan Peduli Duafa Pasuruan,” ucapnya yang diamini warga lainya. 

‎Sekretaris Desa (Sekdes) Dawuhan Sengon, Hermansyah, yang mewakili Kepala Desa, mengapresiasi langkah yayasan. Ia mengakui bahwa wilayah Sidodadi selalu menjadi prioritas dalam penyaluran bantuan dari pemerintah desa. “Kami sangat berterima kasih. Di sini, air memang sulit. Kami mengandalkan mata air dari wilayah Kecamatan Tutur yang berjarak 25 kilometer,” ujar Hermansyah.

‎Namun, ia juga mengungkapkan tantangan besar terkait relokasi warga. Sebenarnya desa sudah mengajukan lokasi relokasi, tapi warga masih berpikir-pikir karena pekerjaan mereka ada di hutan ini.

“Warga bekerja sebagai penyadap getah pinus dan pembuat arang. Kalau direlokasi, mereka bingung cari pekerjaan,” tutup Sekdes Dawuhanswngon.

‎Pemerintah desa, lanjutnya, terus mengupayakan sertifikasi tanah melalui HGB (Hak Guna Bangunan) agar bantuan renovasi rumah tepat sasaran. “Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Perkim. Insya Allah tahun ini sertifikasi tanah bisa selesai,” pungkas Hermansyah.

Sementara itu ‎Kasiono, pembina YPDP yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Gajahrejo, Purwodadi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak pendukung. 

‎”Yang kami berikan hanya sedikit, tapi semoga bermanfaat. Kami berharap bantuan ini bisa menginspirasi para dermawan dan pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan warga pelosok seperti Sidodadi,” urainya.

‎Di tengah segala keterbatasan, kegiatan bakti sosial ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak mengenal medan. Senyum warga Sidodadi yang jarang tersentuh pembangunan kini kembali merekah, meski hanya sejenak. (Lum).

Share this content: