Lapak Selamat dari Api, Pedagang Kepulungan Menanti Pasar Dibangun Kembali
Pasuruan_lumbungberita.id
Bagi sebagian pedagang Pasar Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kebakaran Sabtu (26/9/2026) bukan sekadar peristiwa yang menghanguskan ratusan kios.
Di balik kepulan asap dan puing kebakaran, terselip cerita tentang rasa cemas, lega, hingga harapan agar pasar kembali menjadi tempat menggantungkan hidup.
Salah satunya dirasakan Sutami, 53, warga Kepulungan yang sehari-hari berjualan bahan dan bumbu dapur. Lapaknya memang tidak ikut terbakar, namun perempuan tersebut harus kembali menata dagangannya setelah kiosnya kemasukan air akibat proses pemadaman oleh petugas pemadam kebakaran (damkar).
“Saya lagi menata lapak, karena ada banyak air yang masuk ke kios saya. Bekas penyemprotan damkar,” ujar Sutami kepada Lumbung Berita, Senin (28/9/2026).
Hari ini Sutami belum kembali berjualan. Ia berencana membuka lapaknya kembali dalam beberapa hari ke depan. Namun, ingatannya masih tertuju pada detik-detik saat kebakaran terjadi.
Saat melihat kepulan asap tebal dari kejauhan, Sutami mengaku sempat pasrah. Ia mengira lapaknya sudah ikut dilalap api.
“Saat kejadian kebakaran saya sudah nggak punya hati. Dari jauh saya lihat bedak saya keluar asap tebal. Saya pasrah. Saya kira sudah habis terbakar. Tapi alhamdulillah, ternyata terselamatkan,” tuturnya.
Kini, Sutami berharap Pasar Desa Kepulungan segera dibangun kembali. Baginya, hidupnya sebagai pedagang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas pasar.
“Saya berharap pasar bisa segera dibangun kembali dan aktivitas pasar normal seperti sebelumnya,” harapnya.
Cerita serupa disampaikan Nurul Agus Saputra, 35, pedagang sayur mayur yang telah berjualan di Pasar Desa Kepulungan selama lebih dari 10 tahun.

Selama satu dekade ini, Nurul bahkan membuka lapaknya 24 jam. Pada malam hari masih ada pembeli yang datang. Sedangkan menjelang subuh justru menjadi salah satu waktu paling ramai. Namun, suasana itu berubah setelah kebakaran melanda pasar.
“Kebakaran ini sangat ngaruh ke penjualan. Saya jualan di sini lebih dari 10 tahun. Saya buka 24 jam. Sebelum kebakaran, kalau malam ada saja yang beli. Menjelang subuh malah ramai. Sekarang sepi sekali,” ungkap Nurul.
Nurul juga masih mengingat jelas saat pertama kali mengetahui kebakaran. Ketika itu, ia hendak beristirahat dan hampir tertidur.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari sekitar pasar. Pengalaman pernah terjadi insiden yang hampir memicu kebakaran membuatnya langsung terbangun dan mencari tahu sumber keributan.
“Waktu itu, saya mau tidur siang. Tiba-tiba ada yang teriak. Mata sudah mau lelap, saya kaget dan bangun mencari tahu. Kalau teriak-teriak begitu pasti ada kejadian (kebakaran),” kenangnya.
Dugaan Nurul ternyata benar. Kali ini api benar-benar berkobar. Bahkan, ketika hendak menyelamatkan barang dagangan dari kios yang terbakar, situasi sudah tidak memungkinkan.
“Mau saya tolongin, sudah enggak nutut. Saya pilih amankan barang-barang berharga saya dulu, karena saya pikir bedak saya bakal kena api juga,” katanya.
Beruntung, kios Nurul tidak sampai terbakar seluruhnya. Namun, jilatan api sempat mengenai sejumlah barang dagangannya. Sayur mayur jadi gosong. Bahkan kipas anginnya sampai meleleh.
“Alhamdulillah, bedak saya tidak terbakar, tapi jilatan api sempat mengenai barang dagangan saya. Sampai-sampai kipas angin leleh,” ujarnya.
Meski ia masih bisa berjualan, Nurul juga menyelipkan asa yang sama: Pasar Desa Kepulungan kembali hidup. Ia berharap pembangunan pasar bisa segera dilakukan agar para pedagang kembali berjualan dan roda perekonomian kembali berputar.
“Saya juga berharap pasar segera dibangun. Biar ramai lagi. Karena pasar ini gantungan hidup hampir semua pedagang di sini,” pungkasnya. (Ind)
Share this content:

