Mediasi Sempat Memanas, Warga Jatiarjo Tuntut Taman Safari II Kembalikan Alokasi Pasokan
Pasuruan_lumbungberita.id
Suasana mediasi antara Koperasi Sumber Makmur Jatiarjo dan pihak Taman Safari Indonesia II (TSI II) sempat memanas. Dalam pertemuan yang digelar di salah satu kedai di Desa Watuagung, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jumat (19/6/2026), pengurus dan anggota koperasi kompak menuntut agar alokasi pasokan pertanian dan peternakan ke TSI II dikembalikan seperti semula.
Mediasi tersebut dihadiri jajaran direksi TSI II, pengurus dan anggota Koperasi Sumber Makmur, serta Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto. Namun hingga pertemuan usai, tuntutan warga belum mendapat jawaban yang memuaskan.
“Sudah gak perlu banyak omong lagi. Dari kemarin-kemarin cuma ngomong saja, gak ada hasilnya. Sudah, pokoknya kembalikan (alokasi pasokan) seperti dulu,” ujar salah seorang warga Jatiarjo dengan nada emosi.
Ketegangan sempat membuat forum deadlock. Sebagian warga memilih meninggalkan lokasi atau walk out (WO), sementara sebagian lainnya tetap bertahan untuk melanjutkan dialog. Emosi warga memuncak lantaran pihak direksi TSI II belum menyetujui tuntutan utama koperasi.
Koordinator supplier Koperasi Sumber Makmur untuk TSI II, Ahmad Baidowi, menegaskan pihaknya tidak mempermasalahkan keberadaan vendor lain. Namun, ia meminta pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga Jatiarjo tidak diambil alih.
“Kami tidak anti vendor lain. Cuma kami berharap yang kami kerjakan jangan diutak-atik. Sepertinya TSI II ini anti dengan warga Jatiarjo,” ujarnya.
Menurut Baidowi, kebijakan TSI II yang mengharuskan vendor tak boleh tunggal dinilai tak relevan. Pasalnya, selama ini pasokan ke TSI II juga berasal dari berbagai vendor lain, bukan hanya koperasi yang ia wakili.
“Banyak vendor lain. Tak hanya koperasi kami. Contohnya ayam, pelet, garam itu dari vendor lain, bukan dari kami. Jadi kalau dikatakan Taman Safari tidak boleh satu vendor, kan faktanya sudah ada beberapa vendor. Tapi mengapa koperasi kami yang disudutkan,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Koperasi Sumber Makmur, Suharno, mengingatkan bahwa hubungan koperasi dengan TSI II telah terjalin sejak awal berdirinya taman wisata tersebut. Bahkan, kata dia, pembentukan koperasi dilakukan atas dorongan agar manfaat keberadaan TSI II bisa dirasakan masyarakat sekitar.
“Koperasi ini mulai eksis tahun 1999. Saat TSI II mulai dibuka, kami sudah punya hubungan historis dengan pendiri dan owner-nya. Karena nantinya TSI akan banyak manfaat bagi warga. Kalau melayani individu satu per satu kan susah, maka kami disarankan membentuk koperasi,” jelasnya.
Suharno juga mengungkapkan selama ini warga memilih menjaga hubungan baik dengan TSI II meski terdapat sejumlah persoalan yang belum terselesaikan.
“Di tanah TSI ada tanah warga yang dijadikan parkiran tanpa ada kejelasan bagaimana status pembeliannya. Lalu ada jalan desa yang kanan-kirinya diapit lahan TSI. Kami selama ini diam karena hubungan dengan TSI II baik dan memberikan keuntungan bagi warga,” ujarnya.
Namun, ia memperingatkan bahwa warga tidak akan tinggal diam jika keberadaan koperasi terus dirugikan.
“Kalau koperasi kami diutak-atik sehingga merugikan kami, ya warga pasti bertindak. Saya bisa pastikan itu,” tegasnya.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, jajaran direksi TSI II menyatakan akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan dalam forum dan melaporkannya kepada pimpinan perusahaan.
“Kami hari ini mengumpulkan data dari teman-teman koperasi dan manajemen TSI II sendiri. Segala keluhan dan temuan yang kami dapatkan hari ini akan kami laporkan ke direktur. Secepatnya akan ada solusi. Saya yakin tidak akan lama,” ujar perwakilan direksi.
Di tengah memanasnya suasana, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto, mengambil alih forum untuk menenangkan warga dan mendorong kedua pihak tetap mengedepankan komunikasi.
“TSI II selamanya akan di sana, begitu juga warga. Tolong komunikasi dengan baik karena dua pihak ini adalah mitra yang saling membutuhkan. Kedepankan komunikasi, ayo bersama-sama menyelesaikan persoalan ini,” kata Agus.
Ia menegaskan posisinya adalah sebagai penghubung antara koperasi dan TSI II agar persoalan dapat segera menemukan titik temu.
“Kepentingan saya menyambungkan antara TSI dengan koperasi. Kami ingin hubungan baik tetap terjaga dan masalah ini bisa segera selesai,” tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan warga Desa Jatiarjo terancam kehilangan sebagian sumber penghasilannya setelah alokasi pasokan produk pertanian dan peternakan ke TSI II dikurangi secara signifikan. Pengurangan tersebut disebut-sebut terjadi setelah masuknya vendor baru dalam rantai pasok perusahaan. (Ind/Lum)
Share this content:

