Diserbu Pengunjung, Pasar Kampung Samiler Wonosunyo Bikin Ketua DPRD Pasuruan Minta Digelar Rutin

Pasuruan_lumbungberita.id
Gelaran Pasar Kampung Samiler di kawasan Sumber Air Dusun Betro, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Minggu (14/6/2026), sukses menyedot perhatian masyarakat.

Sejak pagi, kawasan yang biasanya tenang itu berubah ramai dipadati pengunjung yang datang berburu aneka kuliner tradisional dalam balutan konsep pasar kampung bernuansa jadul.

Tak hanya warga sekitar, sejumlah tokoh turut terlihat hadir menikmati suasana. Di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Samsul Hidayat, serta Camat Gempol Hadi Mulyono.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kewirausahaan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bersama Pemerintah Desa Wonosunyo. Puluhan pelaku UMKM dilibatkan untuk menghadirkan beragam pilihan makanan dan minuman tradisional.

Menu yang disajikan pun beragam. Mulai nasi empok, nasi pecel, nasi urap-urap, pentol, klepon, jemblem, rujak buah, bakso, mie ayam, aneka kerupuk, gorengan hingga terang bulan. Sementara minuman yang tersedia di antaranya es teler, es campur, es dawet, es krim, pop ice, teh, kopi hingga jamu tradisional.

Tingginya jumlah pengunjung membuat suasana pasar berlangsung semarak sepanjang kegiatan. Ditambah alunan musik angklung yang dimainkan di area pasar, atmosfer lokasi berubah menjadi ruang kuliner terbuka yang ramai dan penuh interaksi.

Tidak sedikit pengunjung yang menyebut nuansanya mengingatkan pada suasana pasar wisata seperti di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Antusiasme warga juga berdampak langsung pada para pelaku UMKM. Sejumlah stan dilaporkan kehabisan dagangan sebelum acara berakhir karena terus didatangi pembeli.

Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Samsul Hidayat, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsep yang diusung penyelenggara. Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan UMKM lokal.

“Positif sekali untuk pelaku UMKM. Antusiasnya luar biasa. Gak kalah dengan konsep pasar tradisional di kabupaten sebelah. Ya kalau bisa jangan sekali lah. Sebulan dua kali atau minimal sekali. Ini sebuah terobosan bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Pj Kepala Desa Wonosunyo, Wahyu Agung Prayitno, menjelaskan keberhasilan kegiatan tersebut tidak lepas dari kolaborasi dengan pihak kampus.

“Ini berkat kolaborasi dengan Umsida. Kami menyediakan tempat seperti yang diminta Umsida. Juga mengkoordinasi dan mengajak pelaku UMKM se-Wonosunyo. Semua, mulai konsep sampai publikasi di-handle Umsida,” terangnya.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat dan pelaku usaha, pihak desa mengaku mulai memikirkan kemungkinan keberlanjutan program serupa.

“Tentu menjadi tantangan bagi kami melihat antusias pengunjung dan pelaku UMKM. Di tengah keterbatasan dana, kami akan mengupayakan mencari solusi agar pasar seperti ini bisa eksis. Salah satunya dengan menggandeng pihak ketiga seperti sekarang ini,” tambahnya.

Di sisi lain, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Umsida, Kukuh Sinduwiatmo, mengatakan konsep Pasar Kampung Samiler sengaja dirancang untuk mengangkat identitas lokal Desa Wonosunyo melalui produk khas yang selama ini sudah dikenal masyarakat.

“Kami mencoba mengangkat citra samiler. Karena ini adalah jajanan khas Wonosunyo. Caranya dibranding seperti acara hari ini dengan menggandeng pelaku UMKM lain. Jadinya pengunjung lebih mengenal samiler. Kami ingin di benak pengunjung, ingat samiler, ingat Wonosunyo,” jelasnya.

Ia menambahkan, unsur pengalaman pengunjung juga menjadi perhatian dalam penyusunan konsep acara.

“Makanya biar lebih berkesan, kami mengonsep acara seperti pasar jadul. Salah satu poinnya adalah pasar berada di teduhan pohon-pohon besar. Jadinya kesan jadulnya lebih kental,” imbuhnya. (Ind)

Share this content: