Prahara PBNU tak Kunjung Usai, Begini Cerita KH. Said AQil Siroj
Pasuruan,lumbungberita.id
Saya heran, kenapa konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlotul Ulama (PBNU) sulit untuk diajak islah, dan kedua kubuh mengklaim paling benar, itulah penggalan kalimat pertanyaan yang dilontarkan Jurnalis Limbung Berita pada KH Said Aqil Siroj saat wawancara eksklusif di Padepokan Dzikir dan Ta’lim Bumi Aji Panatagama Kota Batu, Sabtu 20/12/2025. (sore)
K.H. Said Aqil Siroj (lahir 3 Juli 1953) adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dua periode masa khidmat 2010–2021 yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022–2027. Selain itu, ia kini juga menjabat sebagai rektor Univesitas Nahdlatul Ulama Cirebon dan komisaris utama Kereta Api Indonesia.
Sejak 2010, K.H. Said Aqil Siroj selalu masuk dalam daftar The 500 Most Influential Muslims, yang dirilis oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center yang berpusat di Yordania
Sore ini, K.H. Said Aqil Siroj menghadiri bakti sosial pengobatan tradisional gratis dan pelatihan (gemblengan) ilmu kanuragan. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Haul KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16 di kediaman KH. M. Musyrifin Amongjiwo.
Cerita Kyai Said, panggilan akrabnya “konflik ini bermula dari urusan tambang yang diberikan Jokowi sekitar 26 ribu hektar pada PBNU, ketua dan sekjen sama-sama membawa juragan, masing-masing sudah menerima DP, kemudian muncul masalah-masalah lain,” tidak usah tambang-tambangan dah, NU tanpa tambang jalan, jaman Gus Dur, Pak Hasyim sampai saya jalan tanpa tambang, saya suruh kembalikan aja tambangnya,” jelasnya dengan ekspresi kecewa.
NU masa K.H. Said Aqil Siroj, pernah Membangun Universitas NU 35 milyar, membebaskan tanah 11 milyar, mendirikan masjid di belgia 6 milyar, “semua bisa tidak usah tambang” sekarang, mamin saja 100 milyar, lanjut sang kyai.
Konflik di NU dari dulu memang ada, tapi cepat islah dan mudah selesai, yang sekarang ini saya juga heran, beberapa kali upaya memepertemukan kedua belah pihak, seperti di Tebuireng, juga tak ada hasil dan sejak ada tambang pikiran NU 80% pikiran ke tambang, “Mboten mikiri madrasah” imbuh kyai yang fasih berbahasa jawa tersebut.
Permasalahan ini sangat berdampak pada struktural ke bawah, di Pengurus besar saja pecah,ada yang cenderung ke gus Yahya, ada yang cenderung ke kyai Miftah “ kalau Gus Yahya di jaga pagar nusa, sedangkan kyai Miftah di jaga banser.
“besok minggu 21 Desember di Lirboyo, saya harap mereka berdua (yang berkonflik) bisa hadir dan permasalahan segera selesai “ pungkas pernyataan Kyai Aqil sore ini.
Usai wawancara dengan awak media lumbung berita, K.H. Said Aqil Siroj memberikan Mau’izah Hasanah pada jama’ah yang hadir dan memimpin do’a penutup, sebelum melanjutkan perjalanannya menghadiri undangan di kota Malang.(DN)
Share this content:

