{"id":5028,"date":"2026-10-29T08:36:36","date_gmt":"2026-10-29T08:36:36","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=5028"},"modified":"2026-10-29T08:36:37","modified_gmt":"2026-10-29T08:36:37","slug":"mediasi-kebisingan-sound-system-memanas-warga-kejapanan-teriakkan-pindah-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/10\/29\/mediasi-kebisingan-sound-system-memanas-warga-kejapanan-teriakkan-pindah-saja\/","title":{"rendered":"Mediasi Kebisingan Sound System Memanas, Warga Kejapanan Teriakkan \u201cPindah Saja!\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasuruan_lumbungberita.id<br>Mediasi pengaduan kebisingan sound system di Balai Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Kamis (29\/10\/2026), berlangsung panas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah mediasi antara dua perempuan pelapor (AK dan Kr) dengan Pemdes Kejapanan, sejumlah warga yang berkumpul di luar ruangan meluapkan kemarahan kepada pelapor, hingga meneriakkan, \u201cPindah saja!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mediasi tersebut dihadiri kepala desa, sekretaris desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala wilayah Dusun Penanggungan, dan Ketua RT-RW.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski mediasi berlangsung di dalam ruangan tertutup, situasi di luar balai desa sempat memanas. Sejumlah warga dan tetangga Kr berkumpul sambil membawa poster berisi sindiran. Di antaranya bertuliskan, \u201cMati Budal Dewe. Pesen Gojek Ae\u201d dan \u201cOrip Ndek Kampung Ojo Arogan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teriakan agar pelapor pindah rumah terdengar berulang kali. Bahkan, beberapa warga melontarkan umpatan kasar. Warga mengaku kecewa terhadap sikap kedua pelapor yang mereka nilai arogan, termasuk karena dianggap membawa-bawa status suami yang berseragam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di hadapan peserta mediasi, AK menjelaskan bahwa pengaduannya semata-mata berkaitan dengan suara sound system yang dinilai mengganggu aktivitas di rumahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKeluhan saya cuma suara itu mengganggu sampai masuk ke rumah saya. Saya cuma minta mengecilkan sound system. Saya sudah ukur desibelnya, hasilnya 80 desibel. Padahal, dalam ketentuan yang berlaku di permukiman, suara harusnya maksimal 50 desibel,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mengaku membutuhkan suasana tenang untuk beristirahat, mengikuti rapat melalui Zoom, serta memberikan kenyamanan bagi anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, keluhan tersebut pernah disampaikan secara langsung dan melalui perangkat desa, tetapi suara sound system yang dipersoalkan masih tetap terdengar keras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal senada disampaikan Hajah Kr. Ia mengaku merasakan getaran akibat suara yang dianggap terlalu keras, bahkan sampai membuat dada dan kaca rumahnya bergetar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTolonglah suaranya dikecilkan sedikit. Dada saya sampai gemetar, kaca rumah saya juga ikut gemetar. Kami juga bukan orang yang tidak peduli lingkungan. Kalau ada hari raya, kami juga ikut berkontribusi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kr menyayangkan anggapan negatif yang menurutnya berkembang terhadap keluarganya akibat persoalan tersebut. Sehingga membuat warga memanas di luar ruangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, Ketua RW setempat, Purnomo, menilai penyetelan sound system yang digunakan warga selama ini sudah sesuai. Ia juga menyebut perangkat suara yang dipersoalkan bukan termasuk sound horeg, melainkan sound system biasa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau saya kira, penyetelannya sudah sesuai. Tidak ada yang bising. Di warga tidak ada sound horeg, yang ada memang sound system biasa,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"577\" src=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1793262706009-picsay.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5030\" srcset=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1793262706009-picsay.jpeg 1000w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1793262706009-picsay-300x173.jpeg 300w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1793262706009-picsay-768x443.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendapat serupa disampaikan Tri, salah seorang warga Penanggungan. Ia mencontohkan penggunaan sound system ketika warga mengadakan persiapan peringatan 40 hari meninggalnya mertuanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat itu, ibu-ibu sedang sibuk memasak pada malam Minggu dengan diiringi musik untuk menambah semangat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Tri, suara yang dikeluarkan saat itu tidak terlalu keras. Ia juga menyebut sound system tersebut hanya sesekali dinyalakan pada kegiatan tertentu. Namun, tetap dianggap bising di telinga keluarga Hajah Kr.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cItu juga dipermasalahkan. Padahal kami setel musik gak mungkin kencang-kencang, wong cuma buat hiburan emak emak masak,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Kepala Wilayah Penanggungan, Pendik mengungkapkan bahwa Hajah Kr sebelumnya pernah menyampaikan keluhan kepadanya. Ia bahkan sempat mengajak Kr mendatangi langsung lokasi sumber suara agar dapat ditegur secara langsung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTapi Ibu Kr menolak. Alasannya karena sudah berusia lanjut dan menyerahkan peneguran kepada saya,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala Desa Kejapanan, Randi Saputra, menyatakan pemerintah desa akan lebih sering turun ke lapangan untuk memantau persoalan tersebut. Ia berharap konflik tidak berlanjut menjadi saling lapor dan seluruh warga bisa merasa nyaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami akan sering turun. Biar tidak saling melaporkan dan sama-sama nyaman. Kami bersama ketua RT dan RW akan mengecek ke rumah Bu Hajah Kr untuk mengukur berapa desibel suara sound system yang terdengar di rumah beliau,\u201d jelas Randi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia juga menyinggung perlunya pengukuran langsung untuk memastikan tingkat kebisingan yang dipersoalkan. Menurutnya, suara percakapan biasa dalam situasi tertentu pun dapat menunjukkan angka desibel yang cukup tinggi, sehingga pengukuran perlu dilakukan dengan tepat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKita ngobrol tanpa teriak teriak begini saja sudah diangka 70 desibel,\u201d papar Randi sambil memperlihatkan aplikasi pengukur tingkat kebisingan di smartphone-nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah mediasi selesai, ketegangan di luar balai desa belum langsung mereda. Sejumlah warga bahkan berencana mengarak Kr dan AK saat keduanya pulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, rencana tersebut akhirnya tidak berlanjut, setelah kakak kandung AK datang dan menenangkan warga. Massa kemudian berangsur-angsur membubarkan diri. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idMediasi pengaduan kebisingan sound system di Balai Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Kamis (29\/10\/2026), berlangsung panas. Di tengah mediasi antara dua perempuan pelapor (AK dan Kr) dengan Pemdes Kejapanan, sejumlah warga yang berkumpul di luar ruangan meluapkan kemarahan kepada&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5029,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-5028","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5028","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5028"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5028\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5031,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5028\/revisions\/5031"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5029"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}