{"id":4771,"date":"2026-10-07T11:06:22","date_gmt":"2026-10-07T11:06:22","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=4771"},"modified":"2026-10-07T14:03:16","modified_gmt":"2026-10-07T14:03:16","slug":"di-balik-fashion-show-hari-batik-nasional-nama-randupitu-naik-panggung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/10\/07\/di-balik-fashion-show-hari-batik-nasional-nama-randupitu-naik-panggung\/","title":{"rendered":"Di Balik Fashion Show Hari Batik Nasional, Nama Randupitu Naik Panggung"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasuruan_lumbungberita.id<br>Ada cerita dari Randupitu yang ikut naik ke panggung fashion show dalam rangka Hari Batik Nasional di Kabupaten Pasuruan, Selasa (6\/10\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cerita itu hadir melalui Batik Sekar Randu Tirta Amerta. Bukan sekadar kain bermotif, tetapi sebuah karya warga Randupitu yang membawa identitas Kecamatan Gempol.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Batik garapan Hartini tersebut dibawakan secara apik oleh Novita Hayati, istri Camat Gempol Hadi Mulyono. Dalam penampilan perdananya, Sekar Randu Tirta Amerta berhasil meraih Juara Harapan III.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Raihan ini makin istimewa karena panggung fashion show disaksikan langsung Ketua TP PKK Jawa Timur Arumi Bachsin dan Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan Merita Rusdi Sutejo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hadi Mulyono mengatakan, dipilihnya karya Randupitu sebagai wakil Kecamatan Gempol bukan tanpa alasan. Menurutnya, Randupitu telah membuktikan mampu menciptakan batik yang memiliki identitas tersendiri dan bahkan telah memiliki hak cipta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cRandupitu sudah berhasil membuktikan lewat terciptanya batik Sekar Randu yang sudah memiliki hak cipta,\u201d ujar Hadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Hadi, penunjukan Randupitu dilakukan sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan fashion show. Waktu tersebut diperlukan karena batik yang ditampilkan merupakan batik tulis sehingga membutuhkan proses dan persiapan yang tidak sebentar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPenunjukannya sekitar dua bulan sebelum hari H. Karena prosesnya memakai batik tulis dan juga harus merepresentasikan potensi sejarah dan wilayah Gempol ke dalam sebuah kain,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada cerita menarik di balik tampilnya Sekar Randu di atas panggung. Hadi memilih istrinya sendiri sebagai model untuk membawakan batik tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain menyesuaikan ketentuan lomba, pilihan itu juga menjadi pengalaman tersendiri karena Lailatul Mariam harus tampil di hadapan para juri tanpa persiapan layaknya seorang model profesional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hadi mengakui, dari sisi desain, Sekar Randu mampu bersaing dengan karya-karya lainnya. Bahkan, salah satu peserta yang menjadi juara menggunakan jasa desainer nasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYang juara satu itu batiknya memakai desainer nasional. Alhamdulillah, desain dari Randupitu bisa menyaingi. Ibaratnya pelukis lokal desa melawan desainer yang sudah nasional. Kami kira sudah bisa bersaing, tidak kalah dengan yang juara,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, Hadi juga mengakui masih ada sisi yang perlu diperbaiki. Berdasarkan penilaian juri, desain batik sudah bagus, tetapi penampilan saat berjalan di atas panggung atau catwalk masih belum maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMemang jujur tanpa persiapan khusus. Langsung belajar otodidak. Alhamdulillah, istri saya tidak ada rasa grogi. Malah istri saya yang memotivasi peserta lainnya. Ya, karena awalnya dikira cuma memeriahkan, ternyata ada penilaian juga,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"733\" src=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1791370824520-picsay.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4772\" srcset=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1791370824520-picsay.jpeg 1000w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1791370824520-picsay-300x220.jpeg 300w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/1791370824520-picsay-768x563.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi Kecamatan Gempol. Hadi pun memastikan, jika kembali mendapat kesempatan serupa, pihaknya akan mempersiapkan penampilan dengan lebih matang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTahun depan saya janji akan tampil lebih baik. Kalau bisa juara satu,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah tampil di panggung fashion show, perjalanan Sekar Randu Tirta Amerta tidak berhenti sampai di sana. Hadi mengatakan, desain batik tersebut nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah Desa Randupitu bersama pembuatnya untuk terus dikembangkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, Kepala Desa Randupitu Mochammad Fuad mengaku bahagia sekaligus bangga karena desanya dipercaya mewakili Kecamatan Gempol.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baginya, kesempatan tersebut merupakan sebuah kehormatan, terlebih harus bersaing dengan 62 kontestan dari kecamatan dan instansi di Kabupaten Pasuruan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIni menjadi kebanggaan bagi kami. Ini juga lomba perdana bagi batik Randupitu. Alhamdulillah, baru pertama ikut sudah bisa mencuri perhatian dan meraih juara,\u201d kata Fuad.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Fuad, kemunculan Sekar Randu Tirta Amerta di panggung fashion show bukan hanya soal memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas Randupitu melalui karya warganya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Randupitu memang sudah punya batik sendiri namanya Sekar Randu, akronim dari Sesek Karo Kembang Randu. Sejak pertama kali tercipta, Fuad berkomitmen untuk terus mengembangkan batik tersebut hingga dikenal lebih luas, bahkan menembus kancah nasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komitmen itu perlahan diwujudkan dari lingkungan desa sendiri. Dalam sejumlah kegiatan resmi di Balai Desa, batik Sekar Randu mulai menjadi bagian dari identitas desa. Begitu pula ketika pemerintah desa menghadiri kegiatan di tingkat kabupaten.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKalau ada acara kenegaraan di balai desa, kami sering menggunakan batik Sekar Randu. Saat diundang ke acara setingkat kabupaten, kami juga beberapa kali mengenakan seragam batik Sekar Randu,\u201d bebernya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fuad ingin Sekar Randu tidak berhenti sebagai produk kerajinan. Ia berharap batik tersebut menjadi bagian dari cerita panjang Randupitu. Sebuah karya yang kelak tetap dikenang meski kepemimpinan dan generasi telah berganti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cCita-cita kami, Randupitu punya warisan tersendiri yang dikenal oleh masyarakat luas. Bukan hanya sekadar punya batik, tetapi punya peninggalan yang menceritakan identitas khas desa,\u201d pungkas Fuad. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idAda cerita dari Randupitu yang ikut naik ke panggung fashion show dalam rangka Hari Batik Nasional di Kabupaten Pasuruan, Selasa (6\/10\/2026). Cerita itu hadir melalui Batik Sekar Randu Tirta Amerta. Bukan sekadar kain bermotif, tetapi sebuah karya warga Randupitu yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4773,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21,5],"tags":[],"class_list":["post-4771","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya","category-pemerintahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4771","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4771"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4771\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4776,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4771\/revisions\/4776"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4771"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4771"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4771"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}