{"id":4744,"date":"2026-10-04T13:30:28","date_gmt":"2026-10-04T13:30:28","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=4744"},"modified":"2026-10-04T13:30:31","modified_gmt":"2026-10-04T13:30:31","slug":"macapat-bertema-pancasila-cara-fpk-hidupkan-toleransi-lewat-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/10\/04\/macapat-bertema-pancasila-cara-fpk-hidupkan-toleransi-lewat-budaya\/","title":{"rendered":"Macapat Bertema Pancasila, Cara FPK Hidupkan Toleransi Lewat Budaya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pasuruan_lumbungberita.id<br>Macapat yang biasanya menjadi ruang untuk melestarikan tradisi tembang Jawa dikemas berbeda oleh Forum Pamong Kebudayaan (FPK).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, FPK menghadirkan Macapat bertema Pancasila yang dipadukan dengan diskusi budaya di Padepokan Seloageng, Desa Watuagung, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Minggu (4\/10\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan tersebut menjadi terobosan FPK dalam menyampaikan nilai-nilai Pancasila melalui seni dan kebudayaan. Tidak hanya melalui tembang, peserta juga diajak mendiskusikan keterkaitan Catur Dharma FPK dengan nilai-nilai Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diskusi mengangkat tema \u201cKorelasi Catur Dharma Forum Pamong Kebudayaan (FPK) dengan Pancasila\u201d. Budayawan asal Mojokerto, Ki Hery Santoso, yang menjadi narasumber, memaparkan bahwa esensi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat tercermin melalui toleransi dan gotong royong.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Hery, nilai kebhinekaan juga menjadi landasan bagi para budayawan FPK dalam menjalankan Catur Dharma. Dalam berkebudayaan, FPK berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKebhinekaan inilah yang mengharuskan budayawan bertoleransi, tidak hanya toleransi beragama, tapi juga toleransi berbudaya,\u201d ujar Hery.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam sesi Macapat. Ketua FPK Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, mengatakan gelaran kali ini sengaja dibuat fokus pada nuansa Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para peserta tidak hanya membawakan tembang, tetapi sejumlah seniman juga menampilkan karya mereka sendiri yang berkaitan dengan tema tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMacapat kali ini peserta fokus pada nuansa Pancasila, tidak ngglambyar ke mana-mana, dan banyak di antara seniman menembangkan karyanya sendiri,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan yang diprakarsai FPK Pasuruan dan didukung Dewan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan (DKKP) tersebut diikuti tiga komunitas kebudayaan. Masing-masing komunitas Macapat Padepokan Seloageng pimpinan Ki Tirta Wardayo, Paguyuban Penghayat Kapribaden (PPK) asuhan Ki Suyani, serta Paguyuban Tirta Kahuripan pimpinan Ki Tuin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMelalui perpaduan diskusi budaya dan Macapat, kami berupaya menjadikan kebudayaan sebagai media untuk menghidupkan kembali nilai toleransi, gotong royong, dan kebhinekaan dalam kehidupan masyarakat,\u201d pungkas Ki Bagong. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idMacapat yang biasanya menjadi ruang untuk melestarikan tradisi tembang Jawa dikemas berbeda oleh Forum Pamong Kebudayaan (FPK). Dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, FPK menghadirkan Macapat bertema Pancasila yang dipadukan dengan diskusi budaya di Padepokan Seloageng, Desa Watuagung, Kecamatan Prigen, Kabupaten&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4745,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-4744","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4744","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4744"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4744\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4746,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4744\/revisions\/4746"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4744"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4744"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4744"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}