{"id":3911,"date":"2026-07-05T13:58:23","date_gmt":"2026-07-05T13:58:23","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=3911"},"modified":"2026-07-05T13:58:25","modified_gmt":"2026-07-05T13:58:25","slug":"gebrakan-fpk-jatim-puluhan-anak-muda-disiapkan-jadi-mc-pengantin-adat-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/07\/05\/gebrakan-fpk-jatim-puluhan-anak-muda-disiapkan-jadi-mc-pengantin-adat-jawa\/","title":{"rendered":"Gebrakan FPK Jatim! Puluhan Anak Muda Disiapkan Jadi MC Pengantin Adat Jawa"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mojokerto_lumbungberita.id<br>Di tengah semakin langkanya generasi muda yang menguasai tata cara pernikahan adat Jawa, Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur membuat gebrakan dengan mencetak puluhan calon Panatacara atau MC pengantin adat Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebanyak puluhan peserta berusia 17 hingga 30 tahun mengikuti pelatihan yang digelar di Bimasakti Farm, Pacet, Mojokerto, Minggu (5\/7\/2026). Menariknya, selain berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Malang, dan Lamongan, sejumlah peserta juga datang dari luar Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua FPK Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa, khususnya tata cara pernikahan adat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya, regenerasi panatacara harus segera dilakukan karena minat generasi muda terhadap profesi tersebut terus menurun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami ingin lahir generasi baru panatacara yang mampu menjaga eksistensi budaya Jawa. Karena profesi ini jarang dilirik anak-anak muda,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain menjadi bagian dari pelestarian budaya, sambungnya, profesi panatacara juga dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Karena itu, FPK Jatim berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menekuni profesi tersebut agar tidak punah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSecara ekonomi profesi panatacara ini sangat menjanjikan, terutama bagi generasi muda, terlebih seorang wanita,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka mengikuti setiap sesi pelatihan. Salah satunya Vina Munawaroh, mahasiswi asal Lampung yang mengaku sengaja mengikuti kegiatan tersebut untuk memperdalam bahasa dan tradisi Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bahagia dan bangga bisa mengikuti pelatihan ini. Selain mendapat kawan baru, saya juga memperoleh ilmu baru yang tidak saya dapat di kampus,&#8221; kata gadis kelahiran 7 Agustus 2007 tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pelatihan itu, peserta mendapat materi dari tiga pemateri berpengalaman, yakni Maduri dari Gresik, Indah Kalalo dari Batu, dan Titus Austin dari Surabaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka membekali peserta dengan teknik menjadi panatacara, penggunaan bahasa Jawa yang baik, serta etika memandu prosesi pernikahan adat. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mojokerto_lumbungberita.idDi tengah semakin langkanya generasi muda yang menguasai tata cara pernikahan adat Jawa, Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur membuat gebrakan dengan mencetak puluhan calon Panatacara atau MC pengantin adat Jawa. Sebanyak puluhan peserta berusia 17 hingga 30 tahun mengikuti&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3912,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21,24],"tags":[],"class_list":["post-3911","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3911","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3911"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3911\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3913,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3911\/revisions\/3913"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3912"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3911"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3911"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3911"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}