{"id":3442,"date":"2026-05-14T11:32:07","date_gmt":"2026-05-14T11:32:07","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=3442"},"modified":"2026-05-14T11:32:10","modified_gmt":"2026-05-14T11:32:10","slug":"ruwah-dusun-kesemen-hidupkan-ludruk-di-tengah-gempuran-budaya-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/05\/14\/ruwah-dusun-kesemen-hidupkan-ludruk-di-tengah-gempuran-budaya-modern\/","title":{"rendered":"Ruwah Dusun Kesemen Hidupkan Ludruk di Tengah Gempuran Budaya Modern"},"content":{"rendered":"\n<p>Mojokerto_lumbungberita.id<br>Upaya menjaga kesenian tradisional agar tak tergerus budaya modern terus dilakukan masyarakat Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Salah satunya melalui pagelaran ludruk dalam acara Ruwah Dusun yang digelar pada Rabu (13\/5\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kegiatan tersebut, Kesenian Ludruk Karya Baru menampilkan lakon Wahyu Pusoko Ponco Warno yang disaksikan warga dengan antusias.<\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi budaya yang digelar dua tahun sekali itu menjadi bagian dari upaya melestarikan seni ludruk sekaligus menjaga tradisi leluhur tetap hidup di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Budayawan asal Tretes, Hardi Utoyo, menilai keberadaan ludruk saat ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Menurutnya, seni tradisional tersebut perlahan mulai tersisih akibat pengaruh budaya asing dan minimnya regenerasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLudruk jangan sampai terpuruk. Pemerintah wajib ikut campur tangan agar seni yang termarjinalkan ini semakin maju dan berkembang,\u201d ujar mantan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Pasuruan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, ludruk bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan juga sarana komunikasi sosial dan media pendidikan yang memiliki nilai budaya tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Pj Kepala Desa Kesemen, Maksum, menjelaskan bahwa Ruwah Dusun merupakan tradisi syukuran masyarakat atas karunia hasil bumi dan keselamatan warga.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, kegiatan tersebut digelar bergantian dengan tradisi Keleman yang memiliki tujuan serupa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPada dasarnya format dan tujuan acaranya sama, yang membedakan adalah hiburannya. Kalau Ruwah Desa menggunakan Ludruk, sedangkan Keleman menggunakan Wayang Kulit,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga menyebut istilah Ruwah Dusun dipilih agar sesuai dengan bulan pelaksanaannya dalam kalender Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBiar sama antara nama acara dan bulannya,\u201d tambah Maksum.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tempat yang sama, pengurus Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jatim, Herry Santoso, turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan budaya tersebut. Ia menilai Ruwah Dusun Kesemen bukan hanya menghadirkan seni pertunjukan, tetapi juga memuat sejumlah Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda tiga OPK sekaligus dalam acara ini, yakni kesenian Ludruk, Tradisi Lisan (Ujub), dan juga Ritus atau ritual,\u201d pungkasnya. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mojokerto_lumbungberita.idUpaya menjaga kesenian tradisional agar tak tergerus budaya modern terus dilakukan masyarakat Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Salah satunya melalui pagelaran ludruk dalam acara Ruwah Dusun yang digelar pada Rabu (13\/5\/2026). Dalam kegiatan tersebut, Kesenian Ludruk Karya Baru menampilkan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3443,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-3442","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3442","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3442"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3442\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3444,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3442\/revisions\/3444"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3443"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3442"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3442"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3442"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}