{"id":3288,"date":"2026-04-22T11:41:39","date_gmt":"2026-04-22T11:41:39","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=3288"},"modified":"2026-04-22T11:41:41","modified_gmt":"2026-04-22T11:41:41","slug":"kim-gempar-randupitu-dan-perjuangan-panjang-menuju-juara-dua-se-kabupaten-pasuruan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/04\/22\/kim-gempar-randupitu-dan-perjuangan-panjang-menuju-juara-dua-se-kabupaten-pasuruan\/","title":{"rendered":"KIM Gempar Randupitu dan Perjuangan Panjang Menuju Juara Dua se-Kabupaten Pasuruan"},"content":{"rendered":"\n<p>Pasuruan_lumbungberita.id<br>Tidak ada hasil besar yang lahir dari proses instan. Kalimat itu rasanya tepat menggambarkan perjalanan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Gempar Randupitu.<\/p>\n\n\n\n<p>Gempar yang merupakan akronim dari Gerakan Masyarakat Peduli Randupitu itu berhasil menyabet penghargaan Terbaik ke-2 se-Kabupaten Pasuruan dalam memaksimalkan penggunaan website atau sub domain kim.id untuk diseminasi informasi tahun 2025.<\/p>\n\n\n\n<p>Penghargaan itu diserahkan dalam kegiatan Sosialisasi Revitalisasi Peran KIM sebagai Mitra Pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam Diseminasi Informasi di Pandaan, Rabu (22\/4\/2026). Dari 28 KIM se-Kabupaten Pasuruan, KIM Gempar berhasil bercokol di posisi kedua.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi sebagian orang, penghargaan itu mungkin hanya sebatas piagam. Namun bagi KIM Gempar, itu adalah simbol dari perjalanan panjang, kerja keras, hingga jatuh bangun yang tak selalu terlihat di permukaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua KIM Gempar Randupitu, Arif Faizin masih mengingat betul bagaimana timnya harus bekerja dengan keterbatasan, membagi waktu, hingga saling menutupi kekurangan antaranggota agar roda organisasi tetap berjalan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAlhamdulillah, ini berkat dukungan penuh dari Pemerintah Desa serta teman-teman KIM yang terus bahu-membahu melaksanakan tugas sesuai tupoksi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengakui, tidak semua anggota KIM bisa aktif dalam setiap kegiatan. Kesibukan masing-masing menjadi tantangan tersendiri. Namun justru di situlah kekuatan mereka terbentuk: saling melengkapi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang tidak semua anggota bisa selalu hadir, tetapi kami punya tanggung jawab dan kesadaran bersama. Kami saling meng-cover anggota yang tidak bisa hadir. Jadi bisa dibilang saling melengkapi,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Arif, salah satu langkah paling strategis datang dari Kepala Desa Randupitu yang menempatkan salah satu perangkat desa menjadi anggota KIM. Keputusan itu membuat jalur koordinasi menjadi lebih cepat dan efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Akses informasi dari pemerintah desa hingga Pemerintah Kabupaten Pasuruan pun menjadi lebih mudah diterima dan segera diteruskan kepada masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya soal akses, dukungan Pemerintah Desa Randupitu juga terasa nyata melalui pemenuhan berbagai peralatan dan perlengkapan KIM selama tiga tahun berturut-turut. Dari sinilah banyak program lahir dan berkembang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"588\" src=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG-20260422-WA0046.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3290\" srcset=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG-20260422-WA0046.jpg 1000w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG-20260422-WA0046-300x176.jpg 300w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG-20260422-WA0046-768x452.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Mulai dari livestreaming kegiatan desa, dokumentasi pemerintahan, diseminasi informasi publik, hingga menjadi tutor bagi KIM desa lain. Semua dijalankan dengan semangat sederhana: agar informasi desa tidak berhenti di ruang rapat, tetapi sampai ke masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu karya yang paling membekas adalah publikasi masif tentang KSM Pempes. Melalui konsistensi pemberitaan dan promosi digital, program itu perlahan dikenal lebih luas, bahkan menembus perhatian di tingkat nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPempes bisa dikenal tidak hanya di Pasuruan, tetapi juga secara nasional. Itu salah satu hasil kerja besar teman-teman KIM,\u201d tutur Arif.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski telah meraih penghargaan, Arif merasa perjalanan KIM belum selesai. Ia justru berharap Pemerintah Kabupaten Pasuruan lebih sering menggelar kompetisi antar-KIM agar semangat inovasi terus tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau kompetisi diperbanyak, masing-masing KIM akan punya kesempatan berkembang lebih baik lagi,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, menyebut penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan buah dari proses panjang yang penuh dinamika.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni tentu membanggakan sekaligus menjadi motivasi agar kami terus berinovasi. Hasil ini bukan kerja instan, tetapi hasil kerja keras selama bertahun-tahun, termasuk jatuh bangun dengan berbagai problematika konflik,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Fuad, prestasi itu diharapkan bukan hanya menjadi kebanggaan Desa Randupitu, tetapi juga mampu menularkan semangat kepada KIM lain, khususnya di Kecamatan Gempol.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia ingin keberhasilan KIM Gempar menjadi bukti bahwa desa mampu bergerak maju jika informasi dikelola dengan serius, konsisten, dan melibatkan banyak pihak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami ingin prestasi ini membuat KIM lain termotivasi mengejar capaian serupa, sehingga efek besarnya visi misi Bupati Pasuruan bisa benar-benar tercapai,\u201d pungkasnya. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idTidak ada hasil besar yang lahir dari proses instan. Kalimat itu rasanya tepat menggambarkan perjalanan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Gempar Randupitu. Gempar yang merupakan akronim dari Gerakan Masyarakat Peduli Randupitu itu berhasil menyabet penghargaan Terbaik ke-2 se-Kabupaten Pasuruan dalam memaksimalkan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3289,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-3288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemerintahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3288"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3288\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3291,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3288\/revisions\/3291"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}