{"id":3223,"date":"2026-04-16T03:12:40","date_gmt":"2026-04-16T03:12:40","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=3223"},"modified":"2026-04-16T03:12:42","modified_gmt":"2026-04-16T03:12:42","slug":"doa-kamis-pon-cara-unik-randupitu-jaga-kerukunan-dan-tradisi-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/04\/16\/doa-kamis-pon-cara-unik-randupitu-jaga-kerukunan-dan-tradisi-jawa\/","title":{"rendered":"Doa Kamis Pon, Cara Unik Randupitu Jaga Kerukunan dan Tradisi Jawa"},"content":{"rendered":"\n<p>Pasuruan_lumbungberita.id<br>Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kembali menunjukkan wajahnya sebagai desa yang tak pernah kehabisan gagasan. Di tengah geliat pembangunan dan inovasi yang selama ini melekat, desa ini menghadirkan sebuah terobosan yang berakar kuat pada nilai spiritual dan budaya Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Contohnya pada Kamis pagi (16\/4\/2026), suasana Musala Balai Desa Randupitu tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.00 WIB, Kepala Desa bersama seluruh perangkat desa berkumpul. Duduk secara lesehan dalam suasana khidmat untuk mengikuti istigasah dan doa bersama.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantunan doa yang dipimpin Mudin Desa Randupitu menggema pelan, menghadirkan ketenangan di antara para hadirin yang larut dalam kekhusyukan. Momen tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi simbol ikhtiar bersama agar kehidupan masyarakat senantiasa diliputi keberkahan dan kerukunan.<\/p>\n\n\n\n<p>Usai berdoa, suasana yang semula khidmat berubah menjadi hangat dan penuh kebersamaan. Seluruh hadirin menikmati hidangan sederhana berupa jajanan pasar dan nasi bungkus yang telah disiapkan. Kebersamaan itu menjadi penutup manis dari kegiatan yang sarat makna.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang menarik, kegiatan ini diberi nama \u201cDoa Kamis Pon\u201d. Nama yang mungkin terdengar unik, namun menyimpan filosofi mendalam yang memadukan nilai keagamaan dan kearifan budaya Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar seluruh warga tetap berpegang teguh pada rukun islam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni Kamis Pon perdana yang kami selenggarakan. Maknanya agar seluruh dusun tetap berpegang pada nilai-nilai rukun Islam,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Fuad menuturkan, penamaan Kamis Pon diambil dari perhitungan penanggalan Jawa yang sarat simbolik. Dalam hitungan Jawa, Kamis bernilai angka 8, sedangkan Pon bernilai 7. Jika dijumlahkan menjadi 15.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cRandupitu memiliki tiga dusun. Angka 15 itu kami bagi tiga, hasilnya 5. Nah, angka lima ini kami maknai sebagai simbol rukun Islam. Artinya, seluruh dusun di Randupitu diharapkan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai rukun Islam,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih dari sekadar hitungan angka, filosofi tersebut juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSengaja kami memilih hitungan Jawa, sebab kami ini orang Jawa. Tradisi dari leluhur jangan sampai dihilangkan, karena ini juga bagian dari pelestarian budaya,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Fuad melanjutkan, doa bersama ini sebenarnya telah lama direncanakan. Namun baru pada hari ini terlaksana. Ke depan, ia memastikan kegiatan tersebut akan digelar secara rutin setiap Kamis Pon, dengan Mudin desa sebagai penanggung jawab pelaksanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cRencananya sudah lama, namun baru sekarang bisa terlaksana. Kedepan akan kami gelar rutin. Bisa dibilang agenda ini adalah perdana untuk seterusnya,\u201d pungkasnya. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idDesa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kembali menunjukkan wajahnya sebagai desa yang tak pernah kehabisan gagasan. Di tengah geliat pembangunan dan inovasi yang selama ini melekat, desa ini menghadirkan sebuah terobosan yang berakar kuat pada nilai spiritual dan budaya Jawa.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3224,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-3223","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemerintahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3223"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3225,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3223\/revisions\/3225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}