{"id":3155,"date":"2026-04-10T00:15:41","date_gmt":"2026-04-10T00:15:41","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=3155"},"modified":"2026-04-10T00:18:07","modified_gmt":"2026-04-10T00:18:07","slug":"fpk-jatim-bidik-seni-rupa-jadi-kunci-wisata-edukasi-dan-literasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/04\/10\/fpk-jatim-bidik-seni-rupa-jadi-kunci-wisata-edukasi-dan-literasi\/","title":{"rendered":"FPK Jatim Bidik Seni Rupa Jadi Kunci Wisata Edukasi dan Literasi"},"content":{"rendered":"\n<p>Batu_lumbungberita.id<br>Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur membidik seni rupa sebagai fondasi strategis pengembangan wisata edukasi dan literasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah ini dinilai strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi melalui media visual yang mudah diapresiasi oleh masyarakat luas.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua FPK Jawa Timur, Ki Bagong Sinukarto, menegaskan bahwa karya seni bukan sekadar objek estetika, melainkan instrumen penting untuk memasyarakatkan kembali nilai tradisi yang mulai terpinggirkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini ia sampaikan saat meninjau pameran lukisan bertajuk &#8220;Sastra Rupa Paradoks Mitologi&#8221; karya Dr. Slamet Hendro Kusumo di Galeri Raos, Kota Batu, Kamis (9\/4\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Karya dengan tema ritual ini tidak hanya memiliki nilai estetika, juga berfungsi sebagai medium revitalisasi budaya. Sangat penting menjadikan seni rupa sebagai alat memasyarakatkan kembali nilai-nilai tradisi yang mulai termarjinalkan,&#8221; ungkap Ki Bagong.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, pameran yang berlangsung mulai 5 hingga 19 April 2026 tersebut merupakan representasi arah baru pengembangan kebudayaan berbasis masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada dengan hal tersebut, budayawan Kota Batu, Didik Soemintardjo, melihat fenomena ini sebagai peluang besar bagi sektor pariwisata. Ia berpendapat bahwa integrasi antara seni, budaya, dan pendidikan adalah kunci pariwisata berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGaleri seni tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga ruang pembelajaran publik. Ini penting untuk membangun kesadaran budaya sekaligus meningkatkan kualitas wisata,\u201d jelas Didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan menjadikan galeri sebagai ruang literasi, pengunjung tidak hanya sekadar berswafoto, namun juga mendapatkan asupan pengetahuan sejarah dan filosofi di balik setiap goresan kanvas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pameran yang memantik dialog budaya ini menampilkan puluhan karya dari Dr. Slamet Hendro Kusumo. Beliau bukan sosok sembarangan dalam jagat seni tanah air; selain dikenal sebagai perupa bertaraf internasional, Dr. Slamet juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar FPK Jatim.<\/p>\n\n\n\n<p>Dedikasinya terhadap pelestarian budaya juga diwujudkan melalui Omah Budaya Slamet di Kota Batu, yang selama ini menjadi jembatan antara kepentingan kultural dan edukatif bagi masyarakat kontemporer. Melalui pameran &#8220;Sastra Rupa Paradoks Mitologi&#8221;, ia membuktikan bahwa seni mampu menjadi ruang dialog yang efektif antara masa lalu dan masa kini. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batu_lumbungberita.idDi tengah arus modernisasi yang kian deras, Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur membidik seni rupa sebagai fondasi strategis pengembangan wisata edukasi dan literasi. Langkah ini dinilai strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi melalui media visual yang mudah diapresiasi oleh&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3156,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-3155","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3155","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3155"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3155\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3158,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3155\/revisions\/3158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}