{"id":2636,"date":"2026-02-18T09:29:25","date_gmt":"2026-02-18T09:29:25","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=2636"},"modified":"2026-02-18T09:29:26","modified_gmt":"2026-02-18T09:29:26","slug":"jawara-kupas-desa-digital-randupitu-jadi-inspirasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2026\/02\/18\/jawara-kupas-desa-digital-randupitu-jadi-inspirasi\/","title":{"rendered":"Jawara Kupas Desa Digital, Randupitu Jadi Inspirasi"},"content":{"rendered":"\n<p>Pasuruan_lumbungberita.id<br>Jagongan wakil rakyat (Jawara) bertajuk Inspirasi Desa Digital digelar di Pendopo Balai Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Rabu (18\/2\/2026).<\/p>\n\n\n\n<p>Diskusi yang berlangsung hampir dua jam itu mengupas potensi, tantangan, sekaligus urgensi digitalisasi bagi pembangunan desa ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hadir sebagai narasumber tiga anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, yakni Nik Sugiharti dari Fraksi Golkar, Kasiman dari Fraksi Gerindra, dan Sugianto dari Fraksi PDI Perjuangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menariknya, selain membahas digitalisasi, Pemdes Randupitu juga memamerkan berbagai produk UMKM yang sudah menembus pasar digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu dalam pemaparannya, Nik Sugiharti menegaskan bahwa digitalisasi desa bukanlah sebuah keharusan yang dipaksakan, melainkan kemauan yang harus tumbuh dari desa itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDesa itu majemuk. Ada yang siap, ada yang belum. Digitalisasi bukan paksaan, tapi kemauan. Randupitu dipilih karena desa ini menginspirasi Pemkab Pasuruan, hingga akhirnya seluruh desa dituntut menuju Desa Digital,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, khususnya bagi generasi muda. Ia mencontohkan format podcast seperti kegiatan hari itu yang dinilai efektif menjangkau anak muda.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSekarang anak muda lebih banyak menonton lewat layar HP daripada televisi. Kontennya pun podcast. Maka ini bisa menjadi sarana penting untuk mengedukasi generasi muda tentang digitalisasi, pemerintahan, politik, budaya, dan lainnya,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda melalui digitalisasi dapat mendorong Kabupaten Pasuruan menjadi daerah yang semakin maju dan sejahtera.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tempat yang sama, Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, mengaku bersyukur jika desanya dinilai mampu menginspirasi. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama pihaknya bukan sekadar menjadi contoh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau dibilang menginspirasi, alhamdulillah. Tapi bukan itu tujuan kami. Kami ingin desa ini maju dengan melibatkan anak muda, karena merekalah calon pemimpin selanjutnya. Tanpa digitalisasi, kita pasti tertinggal dari daerah lain,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Fuad mengungkapkan bahwa konsep Desa Digital sudah lama dirancang di Randupitu. Implementasinya dimulai dari pembangunan website desa hingga pengelolaan bank data mandiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami punya web sendiri dan bank data sendiri. Tidak ikut hosting di tempat lain, karena di dalamnya banyak data warga. Keamanan data menjadi prioritas,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dukungan terhadap program tersebut, lanjut Fuad, datang dari berbagai pihak, termasuk DPRD dan Bupati Pasuruan. Ia optimistis, dengan sinergi yang kuat, Desa Digital bukan hanya tren, melainkan kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDiskusi ini menjadi refleksi bahwa transformasi digital di desa bukan semata soal teknologi, melainkan perubahan pola pikir, partisipasi generasi muda, serta komitmen bersama untuk membangun desa,\u201d pungkasnya. (Ind)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idJagongan wakil rakyat (Jawara) bertajuk Inspirasi Desa Digital digelar di Pendopo Balai Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Rabu (18\/2\/2026). Diskusi yang berlangsung hampir dua jam itu mengupas potensi, tantangan, sekaligus urgensi digitalisasi bagi pembangunan desa ke depan. Hadir sebagai&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2637,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-2636","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemerintahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2636","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2636"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2636\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2638,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2636\/revisions\/2638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2637"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}