{"id":1424,"date":"2025-10-18T14:34:30","date_gmt":"2025-10-18T14:34:30","guid":{"rendered":"https:\/\/lumbungberita.id\/?p=1424"},"modified":"2025-10-18T14:34:38","modified_gmt":"2025-10-18T14:34:38","slug":"festival-kopi-di-prigen-tempat-seni-dan-edukasi-diseduh-jadi-satu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/2025\/10\/18\/festival-kopi-di-prigen-tempat-seni-dan-edukasi-diseduh-jadi-satu\/","title":{"rendered":"Festival Kopi di Prigen, Tempat Seni dan Edukasi Diseduh Jadi Satu"},"content":{"rendered":"\n<p>Pasuruan_lumbungberita.id<br>Festival kopi bertema keberlanjutan digelar di kaki Gunung Arjuno. Bertajuk Prigen Coffee Fest 2025, kegiatan ini berlangsung di Kedai Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, pada 17\u201318 Oktober 2025.<\/p>\n\n\n\n<p>Festival tersebut menggabungkan promosi kopi lokal, edukasi lintas komunitas, penguatan sektor pariwisata, dan kesadaran lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Cempaka Foundation Sarifudin Lathif mengatakan, Prigen Coffee Fest bukan hanya ajang menikmati kopi, tetapi juga sarana kolaborasi lintas sektor untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTahun ini, kami bangga menghadirkan festival yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menginspirasi pikiran dan menyentuh hati,\u201d terang Sarifudin, Sabtu (18\/10\/2025).<\/p>\n\n\n\n<p>Festival ini menghadirkan sejumlah kegiatan interaktif. Di antaranya Slow Bar \u201cBlack &amp; White\u201d Experience, yang mengajak pengunjung menikmati pengalaman menyeduh kopi secara perlahan bersama barista profesional. Slow Bar \u201cBlack\u201d diisi oleh Ferryansa (House of Coffee Morning), sementara Slow Bar \u201cWhite\u201d oleh Ramadhan Adi (TBRK Roastery Coffee Class).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"950\" height=\"629\" src=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0023.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1426\" srcset=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0023.jpg 950w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0023-300x199.jpg 300w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0023-768x508.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 950px) 100vw, 950px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain itu, ada kompetisi Latte Art Competition dan Fun Brewing Competition yang menjadi ajang unjuk kreativitas para barista. Kompetisi ini menampilkan juri-juri berpengalaman seperti Ramdhan Adi, Laga Putra, Windi Prapanca, hingga Dimasdor, serta para coffee enthusiast dari berbagai komunitas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMulai dari kompetisi latte art, brewing, workshop batik dengan pewarnaan ampas kopi, slow bar experience, hingga workshop pertanian regeneratif, semuanya dirancang untuk mempertemukan tradisi dan masa depan,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, kegiatan Kopi &amp; Kreasi dan Batik dengan Pewarnaan dari Ampas Kopi menjadi daya tarik tersendiri. Melalui dua workshop ini, peserta diajak melukis dan membatik dengan bahan alami dari kopi. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kopi bukan hanya minuman, tetapi juga sumber inspirasi seni dan solusi ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami ingin menunjukkan bahwa limbah kopi pun punya nilai ekonomi dan seni. Lewat kegiatan ini, kami mendukung gerakan penggunaan pewarna alami dan pengolahan limbah kopi menjadi karya yang bermanfaat,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya fokus pada kopi, Prigen Coffee Fest juga menyertakan Workshop Regenerative Agriculture yang diikuti kelompok tani hutan, pemerintah desa, dan akademisi. Workshop ini memperkenalkan modul dan pedoman pertanian regeneratif yang menekankan keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber daya alam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMelalui workshop ini, kami ingin memperkuat kolaborasi antara petani, pemerintah desa, dan akademisi untuk membangun sistem pertanian yang lebih berkelanjutan,\u201d jelas Sarifudin.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"563\" src=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0021.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1425\" srcset=\"https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0021.jpg 1000w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0021-300x169.jpg 300w, https:\/\/lumbungberita.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251018-WA0021-768x432.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sebagai pelengkap, Prigen Coffee Fest 2025 juga menampilkan live music dari sejumlah musisi ternama seperti Noecoustik, The Shadow, Sruwokempol, dan Klantink. Penampilan mereka menambah semarak suasana malam di tengah kesejukan hutan Prigen.<\/p>\n\n\n\n<p>Sarifudin menambahkan, festival ini diharapkan menjadi wadah bagi komunitas untuk berbagi inspirasi dan menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemoga Prigen Coffee Fest menjadi ruang kolaborasi, edukasi, dan apresiasi. Mari kita rayakan kopi sebagai jembatan antara manusia, alam, dan kreativitas,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jurnalis: Indra<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasuruan_lumbungberita.idFestival kopi bertema keberlanjutan digelar di kaki Gunung Arjuno. Bertajuk Prigen Coffee Fest 2025, kegiatan ini berlangsung di Kedai Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, pada 17\u201318 Oktober 2025. Festival tersebut menggabungkan promosi kopi lokal, edukasi lintas komunitas,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1427,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,10,24,21],"tags":[],"class_list":["post-1424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","category-ekonomi","category-pendidikan","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1424"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1424\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1428,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1424\/revisions\/1428"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1427"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lumbungberita.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}